Rabu, 01 Mei 2013

Prompt #11: Nota (2)


"Abang mau minum apa?"

“Cucu!”

Aku tergelak mendengar jawaban itu. Duuh, anak ini menggemaskan sekali. Siapa yang bisa tak jatuh cinta padanya? Kukeluarkan botol susu dari dalam diaper bag, lalu kuserahkan pada bocah tiga tahun di hadapanku. Dia langsung meminumnya dengan terburu-buru.

“Hahaha.. Minumnya pelan-pelan, Bang!” aku mengusap kepalanya.

Di depan kami, ayah bocah itu sedang sibuk menekuni laptop. Aku mengerutkan kening. Weekend begini masih saja disibukkan dengan urusan kantor. Memangnya tidak capek terus-menerus bekerja?

Seorang pelayan mendatangi meja kami sambil membawa dua gelas jus.

”Terimakasih,” kataku sambil tersenyum.

Pukul dua lewat. Sebentar lagi kereta yang kami tunggu datang. Aku gelisah. Rasa-rasanya tak ingin segera menyudahi kebersamaan seperti ini.

***


”Semuanya tiga puluh enam ribu, Bu,” kata pelayan di meja kasir. Aku mengangsurkan sehelai uang lima puluh ribuan. Huuff...mahal sekali! Hanya untuk dua gelas jus saja habis tiga puluh enam ribu. Kuterima nota dan uang kembalian dari pelayan itu, lantas kumasukkan ke dalam kantong bajuku. Untuk kenang-kenangan. Aku tersenyum.

***

Wanita itu muncul dari balik anak tangga stasiun, disambut senyum lebar sang bocah.

”Mamaaaaa!!”

”Abang, sini Nak. Aduuhh, Mama kangen banget sama Abang!” Segera, anak kecil itu lekat dalam gendongan mamanya.

“Papa sehat Pa? Seminggu ini nggak ada apa-apa kan?” Laki-laki di sebelahku tersenyum lebar, segera merangkul pinggang isterinya.

”Mbak, minta tolong bawain tas ini ya. Sama tas oleh-oleh itu. Yuk kita langsung pulang aja Pa, Mama capek.” Keluarga kecil bahagia itu melangkah menuju pintu keluar. Aku mengikuti mereka dari belakang. 



Selasa, 30 April 2013

Prompt #11: Nota


Pandanganku berputar hebat. Rumah terasa bergoncang. Aku mengurungkan niat untuk bangun dari tempat tidur.

”Yaaahh!”

”Ya? Kenapa Nda?” sesosok tubuh muncul dari balik pintu.

”Sini deh!”

”Apa? Masih pusing?” tanyanya sembari mendekat.

”Tadi Bibik bilang gula habis, minyak goreng habis, semuanya habis. Ayah belanja ya?”

“Yaah.. Nggak mau ah. Nanti aja kalo Nda udah baikan kita belanjanya.”

”Iihh.. Belanja doang, Yah. Di Giont depan situ. Nda masih pusing banget nih kepalanya.”

Suamiku tampak berpikir sejenak.

“Oke deh. Sama Raihan ya?” katanya bersemangat. Aku mengangguk.

”Minta tolong ambilin bolpen sama kertas Yah. Nda catetin belanjaannya dulu.”

***

Suara klakson mobil di depan rumah. Ayah dan Raihan sudah pulang rupanya.

“Kami pulaaanngg!” Wajah dua laki-laki yang sangat kucintai itu muncul di depan pintu kamar.

”Belanjanya banyak banget Nda. Ini notanya,” kata suamiku sambil mengangsurkan selembar nota.

Kutelusuri nota itu. Ada yang aneh. Banyak barang asing di sana.

“Ayah, apa ini? Nda kan nggak pesen parfum? Ini juga. Ini juga. Beli kecapnya kok sampe tiga botol Yah? Saosnya 2 botol? Ayah nggak liat catetan? Pantes sampe lima ratus ribu.”

Laki-laki itu tampak berpikir heran.

”Sebentar, Ayah ambil belanjaannya dulu.”

***

Kami meneliti satu per satu barang yang ada di dalam kantong belanja. Banyak barang siluman. Suamiku menggaruk-garuk kepalanya, nampak bingung. Raihan sedang berguling-guling di atas tempat tidur, sambil bermain-main dengan kecap dan saos botolan.

Aku menoleh kepada suamiku.

“Tadi pas belanja Raihan dimana yah?”

”Ayah dudukin di troli.”

”Pas mau bayar di kasir, Ayah nggak ngecek belanjaan lagi?”

Suamiku menggeleng. Aku menepuk jidat. Kamar kembali berputar. Ternyata yang belanja adalah anakku. 


Raihan sedang belanja

Senin, 22 April 2013

Prompt #10: Shioban dan Kereta Kuda


Gambar dari sini



Shioban berlari kencang melintasi pepohonan di kanan dan kirinya. Sial! Saat genting seperti ini, tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan. Shioban terpaksa meninggalkan ladangnya di tengah hutan dan berlari secapat kilat begitu mendapat panggilan darurat itu.

Suara gemerincing dari kejauhan. Shioban memicingkan mata kearah matahari yang sebentar lagi tenggelam di balik awan. Dia tak sadar, kegelapan telah menyelimuti hutan. Shioban menghentikan larinya.

Suara itu kian mendekat. Shioban pernah mendengar cerita dari warga desa. Setiap kali matahari tertutup awan, kereta kuda tanpa awak akan melintas di tengah hutan. Shioban mengambil napas. Sebentar lagi dia akan bertemu langsung dengan kereta kuda itu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.

***

Kereta kuda melayang melintasi tunggul kayu mati, lalu mendarat kembali  ke tanah dengan suara gemerincing.

Shioban tiba-tiba melompat ke tengah jalan setapak.

”Berhenti!!!”

Kereta kuda berhenti mendadak.

Sesosok makhluk tiba-tiba muncul di kursi pengendara. Matanya merah menyala. Nampaknya dia marah telah dihentikan secara mendadak.

”Siapa kamu??”suaranya menggelegar.

”Aku Shioban. Pemuda dari desa di kaki gunung. Kamu?”

”Lancang!! Aku jin penjaga kereta ini. Berani-beraninya kamu menghentikan keretaku!”

”Maaf. Aku hanya ingin menumpang keretamu sampai di desaku. Boleh kan?”

"Kereta kuda hanya untuk para ratu dan penyihir."

"Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika
aku menginginkannya?" kata Shioban sambil mendelik ke arah jin penjaga.


"Beraninya kamu, dasar pemuda desa tak tau diri!" kali ini bukan hanya matanya, tapi seluruh tubuh jin penjaga berubah menjadi merah menyala.

Shioban mundur selangkah. Nyaris saja dia melarikan diri kalau tak ingat sesuatu, botol tempat minum yang selalu dibawanya kemana-mana. Shioban tersenyum.

***

Kereta kuda sampai di tepi sungai desa. Air sungai tampak mengalir perlahan. Shioban meloncat dari duduknya. Berlari ke tengah sungai. Semoga dia belum terlambat.

Tak sabar Shioban melepaskan celananya, lalu berjongkok di antara celah batu. Menyembunyikan dirinya dari pandangan orang yang mungkin saja lewat.

“Aah, legaaaa…”

Shioban meringis mengingat botol tempat minum berisi jin penjaga yang sudah dibuangnya di dalam hutan. Ternyata sakit perut memberinya keberanian lebih untuk melawan jin pembawa kereta kuda misterius yang telah meresahkan warga. 






Selasa, 16 April 2013

Pas Foto

Aku terkesiap. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Dengan gemetar kukeluarkan pas foto itu dari dompet suamiku. Seorang wanita. Masih muda. Cantik. Rambutnya sebahu. Dan dia berkacamata.

Kurasakan mataku tiba-tiba panas. Siapa wanita ini?? Kenapa Mas Bayu menyimpan fotonya di dalam dompet?? Oh, berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam benakku. Padahal kami baru saja menikah seminggu yang lalu. 

"Dek, kenapa?" Mas Bayu tiba-tiba sudah ada di pintu kamar. Tak sempat kusembunyikan pas foto di genggamanku, dan isi dompetnya yang masih berserakan di atas tempat tidur.

"Tamunya udah pada pulang, Mas?" suaraku bergetar. 

Mas Bayu duduk di sebelahku. Pelan-pelan mengambil pas foto yang masih kugenggam. Lalu dalam diam, dia memasukkannya lagi ke dalam dompet. Membereskan segala macam kartu, uang kertas, recehan, dan slip-slip atm yang sudah kuhamburkan. Menatanya lagi di dompetnya. Dalam diam.

"Besok sebelum kembali ke Jakarta, Mas ajak kamu ke suatu tempat ya," dia tersenyum, lalu keluar kamar. Meninggalkan hatiku yang sedikit retak.

***

Aku belum pernah ke tempat ini. Rimbunan pohon bambu. Selepas itu jembatan besar yang berdiri kokoh melintasi sungai lebar dengan air kecoklatan.  Kami berbelok di tikungan, dan tampaklah sebuah pemakaman. Untuk apa Mas Bayu mengajakku ke sini?

Kami memasuki pemakaman itu dalam diam. Mas Bayu menggenggam tanganku erat. Di depan sebuah batu nisan, dia berhenti. 

"Sini..." dia mengajakku berjongkok.

"Nina, kenalkan. Ini Indah, istriku. Dek, ini Nina, wanita dalam foto semalam." Aku terpaku di samping Mas Bayu. 

"Nina itu dulu teman SMA. Ya kan Nin?" 

"Kami kuliah di kota yang berbeda. Dia di Semarang, Mas di Jogja. Hingga 3 tahun kemudian kami bertemu lagi saat reuni SMA. Dan sejak saat itu Mas mulai mendekatinya." Mas Bayu mengambil jeda. 

"Tak lama kemudian kami pacaran. LDR. Bertemu beberapa bulan sekali, saat libur kuliah." Aku membeku mendengarnya.

"Usia pacaran kami tak begitu lama. Tepat setahun setelah jadian, Nina kecelakaan motor di Semarang. Dia meninggal di tempat."

Aku tak punya daya untuk menanggapi cerita itu. Nina pasti orang yang sangat dicintai Mas Bayu. Sampai-sampai setelah lima tahun kepergiannya, Mas Bayu masih menyimpan pas foto Nina di dompetnya. Kualihkan pandang dari nisan Nina. Ah, masih muda sekali dia saat meninggal. 

"Empat tahun Mas berusaha merelakannya pergi. Sampai tiba saat kau datang. Mas pikir mungkin itulah saatnya Mas harus menata masa depan." 

"Nina adalah orang yang pernah Mas cintai, dulu. Dan kamu adalah orang yang Mas cintai. Sekarang, dan untuk seterusnya." Mataku berkaca-kaca.

Mas Bayu mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan foto Nina. Dia meletakkannya di atas makam. Aku memandangnya penuh tanya. Mas Bayu hanya tersenyum tipis.

"Pulang yuk!" Ajaknya kemudian.

***

Motor kami melintasi sungai yang berair cokelat. Matahari tepat berada di atas kepala. Aku hampir lupa, nanti sore kami harus kembali ke Jakarta.

"Dek..." Mas Bayu memutus lamunanku.

"Ya?"

"Besok Mas minta pas fotonya ya, buat dipasang di dompet."

Aku terkekeh.



***

Jumlah kata: 460
Tulisan ini diikutsertakan dalam QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 - SEKILAS SEKITARMU

Keterangan:
Pas foto di atas adalah pas foto saya. Bukan Nina, atau Indah lho ya! Waktu baca Quiz terbarunya MFF, langsung deh cari ide. Barang apa yang dijadikan inspirasi ya?? Setelah melist daftar barang yang ada di sekitar, kayaknya pas foto yang ada di dompet bisa dijadikan inspirasi. Dan kebetulan, ingat FF sebelumnya tentang Parfum, kayaknya bisa disambungkan ke sana. Akhirnya, jadi deh cerita di atas. Kisah sebelumnya dari FF ini bisa dibaca di sini ^_^

Senin, 15 April 2013

Bagi-bagi tugas


Mulai sekarang, kayaknya blog yang satu ini mau dikhususkan buat nulis-nulis fiksi dan tulisan buat lomba atau giveaway aja deh. Curhat-curhatannya pindah ke lapak sebelah di wordpress ajah. Hehehehehe.. Kayaknya lebih sreg kalo kayak gitu :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...